C.W. Mills – Imajinasi Sosiologis

“C.WRIGHT MILLS”

IMAJINASI SOSIOLOGI

 

Dengan imajinasi sosiologis seseorang dapat memahami pandangan historis yang lebih luas, dari segi pengertiannya terhadap hakikat kahidupan (inner life) dan kebutuhan kehidupan (external career) berbagai individu. Dengan menggunakan itu dia dapat melihat bagaimana individu-individu, dalam keruwetan pengalaman sehari-harinya sering mengisruhkan posisi sosial mereka. Dalam keruwetan itu dicari kerangka masyarakat modern dan dalam kerangka demikian psikologi berbagai manusia dirumuskan. Dengan sarana-sarana itu kegelisahan pribadi para individu dipusatkan pada kesulitan-kesulitan eksplisit dan kesamaan-kesamaan publik diubah menjadi keterlibatan dengan isu publik (Mills,1959:5). Demikian sebuah kutipan Mills yang sedikit mengungkapkan teorinya tentang psikologi sosial akibat kegelisahan dan problem individu yang sedang di hadapi sehingga mempengaruhi keadaan sosial yang ada dalam masyarakat. Di lain pihak keadaan struktur dalam lembaga atau organisasi masyarakat berada dalam keadaan kurang stabil sebagai akibat dari konstelasi konflik kepentingan yang berkepanjangan. Keadaan yang kurang kondusif dalam masyarakat dinilai sebagai pengaruh atau disebabkan oleh keadaan individu yang sedang gelisah/berada dalam tekanan dan keruwetan pengalaman yang dihadapi.

Disamping itu ada dua model identifikasi penelitian sosiologis yang kemudian di sintesiskan oleh Mills yang disebut Imajinasi Sosiologis. Imajinasi Sosiologis ini gabungan dari dua penelitian yang diidentifikasikan oleh Mills Makroscopik dan Molekular. Makroskopik, behubungan dengan keseluruhan struktur sosial dalam cara perbandingan, ruang lingkup sama dengan ruang lingkup ahli sejarah dunia, mencoba menampilkan tipe-tipe fenomena historis, dan secara sistematis menghubungkan berbagai lingkungan institusional masyarakat yang kenudian dikaitkan dengan tipe-tipe manusia yang ada. Molekular, ditandai dengan masalah-masalah berskala kecil dengan kebiasaan menggunakan model verifikasi statistik dalam kata lain perilaku kusus seseorang.

Imajinasi sosiologi merupakan kemampuan untuk mengungkap sejarah dan biografi serta daya gunanya dalam masyarakat. Mills menambahkan pada tekanan sosial psikologis terletak di dimensi sejarah dan kesadaran akan pengaruh kekuasaan terhadap struktur sosial. Kepercayaan terhadap kebebasan manusia untuk mengubah sejarah, menyebabkan dia menuntut pembaharuan sosiologi yang bermanfaat bagimasyarakat. Psikologi Sosial Mills didasarkan atas kecenderungan individu untuk terlibat dalam masyarakat dan struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang ada. Individu diasumsikan mampu untuk merubah pola-pola yang ada dalam struktur dengan kesadaran sejarah atau pengalaman yang ia refleksikan dalam kehidupanya. Artinya bahwa kebebasan individu dan kesadarannya pada masyarakat dan lembaga ditentukan oleh tingkah laku individu yang sedang dalam keadaan goncang atau kerumitan yang ia alami di lingkungannya. Sementara itu kekuasaan yang ada dalam lembaga tertentu di senantiasa berada dalam tingkat konflik yang terus berkepanjangan antara individu yang mempunyai tingkat sejarah dan pengalaman berbeda dalam refleksi problemnya, sehingga kekacauan yang ada dilembaga terletak pada individu itu sendiri yang mampu merubah dan menggeser struktur yang telah ada. Kerumitan dan kegoncangan yang telah ada pada masing-masing individu menjadi titik temu yang signifikan dalam perubahan lembaga tersebut.

Karyawan Berkerah Putih

Kelas menengah baru telah lahir sebagai bagian dari penduduk Amerika. Mereka terdiri dari para manajer, buruh upahan, salesman, dan pekerja kantor. Sebagian besar karyawan berkerah putih ini (white collar-workers), istilah yang digunakan Mills, adalah sosok menyedihkan yang semakin kehilangan kekuatan pribadinya. Kesengsaraan ini ditandai oleh keterasingan mereka terhadap kerja maupun terhadap dirinya.

Perubahan dalam kelas berkerah putih semenjak tahun 1900 pada umumnya menunjukkan keruntuhan posisi mereka. Kecenderungan itu termasuk (1) hilangnya prestise bilamana disbanding dengan pengusaha tipe lama. (2) merosotnya pendapatan riel “sampai hanya sedikit diatas, dan dalam beberapa kasus penting, lebih rendah, ketimbang pendapatan rata-rata berbagai kelompok pekerja upahan:. (3) mekanisasi jabatan, yang mengancam eksistensi sekian lapangan kerja yang dipegang oleh karyawan yang berkerah putih. (4) pembatasan otonomi pekerja kantor.

Dalam kasus karyawan berkerah putih, di gaji itu tidak membuat apa-apa , walaupun ia mampu menangani sejumlah hal yang sangat diinginkannya tetapi itu tidak pernah bisa. Tidak pernah ada hasil ukir yang dapat menjadi miliknya dengan maksud kesenangan ketika barang itu sedang atau setelah diciptakan. Karena terasing setiap hasil perkerjaannya, dan selama bertahun-tahun menghabiskan perkerjaan rutin, akibatnya mereka menggunakan waktu luang pada hiruk pikuk hiburan palsu yang ada. Mills menggunakan sejarah untuk menjelaskan kembali dunia pengusaha kecil di masa silam. Mereka di gambarkan Mills sebagai “orang bebas, bukan orang yang terikat, orang yang merdeka, bukan orang yang dibatasi oleh tradisi.”

 

Elit Kekuasaan

Mills melihat kekuasaan sebagai kemampuan agar kehendak seseorang diikuti walaupun memperoleh perlawanan. Elit kekuasaan (Power Elite) adalah mereka, berbeda jauh dengan kelas menengah yang berbeda dalam posisi sangat penting untuk mengambil keputusan dengan berbagai akibat besar. Mills melihat elit kekuasaan sebagai suatu kelas sosial dari orang-orang yang memiliki asal-usul dan pendidikan yang sama, yang memiliki “dasar-dasar sosial dan psikologis yang menyatukan mereka atas kenyataan bahwa mereka adalah tipe sosial yang serupa dan menjurus pada fakta kemudahan saling berbaur”.

Mills memperjelas penggambaran kekuasaan elite dalam bentuk piramida kekuasaan. Bagian paling puncak piramida diduduki elite berkuasa, yakni pemimpin yang menguasai tiga sector penting. Lapisan kedua adalah pemimpin opini local, bagian ini melakukan tawar-menawar bagi elite-elite yang berkuasa. Kemudian lapisan ketiga adalah masa yang tidak memiliki kekuasaan dan orang-orang yang tidak terorganisasi yang dikontrol oleh kekuasaan yang diatas. Ada dua factor yang menyebabkan kemunculan kekuasaan elite. Pertama, alat kekuasaan dan kekerasan yang saat ini jauh lebih besar daripada yang ada dimasa lalu. Kedua, sifat saling tergantung di antara elite yang merupakan hasil dari factor struktur social yang dapat dilihat secara historis, dimana bentuk dan derajat sentralisasi institusi ekonomi, militer, dan politik sangat besar.

 

 

Kesimpulan

Gambaran Mills tentang orang, masyarakat, dan sosiologi pada masanya sebagian bertentangan dengan kecenderungan teoritis kaum fungsionalis structural.Pandangan Mills mencerminkan keberhadapan antara orang sebagai produk sosial dan orang sebagai pencipta struktur sosial. Menurut Mills dalam keadaan kita member tanggapan yang tidak rasional terhadap berbagai symbol status dan slogan politik itu, mungkin para pelaku dapat mengubah sejarah sosial mereka. Dengan demikian, menurut Mills, bilamana orang menyadari hakikat yang pada dasarnya tidak rasional itu, mereka akan bisa memperbaiki pandangan sendiri dan akhirnya mengubah masyarakatnya. Mills menyatakan bahwa, sementara semua manusia bebas membuat sejarah, tetapi hanya beberapa orang yang benar-benar melakukannya karena ia memang lebih bebas dibanding dengan individu lainnya. Dengan demikian orang yang digambarkan Mills adalah orang yang sebagian bebas dan sebagian telah ditentukan, tergantung pada posisinya didalam elit kekuasaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Polama, Margaret.M. 1999. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Ritzer, George dan Douglas J.Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media

Ritzer, George dan Douglas J.Goodman. 2014. Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana Offset

G.H. Mead – Interaksionisme Simbolik

GEORGE HERBERT MEAD

“INTERAKSIONISME SIMBOLIK”

 

George Herbert Mead menguraikan lebih lanjut peran pikiran (mind). Pikiran manusia mengartikan dan menafsirkan benda-benda dan kejadian yang dialami, menerangkan asal muasal dan meramalkan mereka. Pikiran manusia menerobosi dunia diluar dan seolah-olah mengenalnya dari balik penampilannya. Ia menerobosi diri sendiri dan membuat hidupnya sendiri menjadi obyek pengenalannya, yang disebut “aku” atau “diri” (self). Mead juga melihat pikiran (mind) dan kedirian menjadi bagian perilaku manusia, yaitu bagian interaksinya dengan orang-orang lain. Interaksi itu membuat dia mengenal dunia dan dia sendiri. Dengan memakai kata-kata judul buku karangan Mead, yaitu Mind, Self, and Society (1934), kita harus mengatakan bahwa mind dan self berasal dari society atau dari proses-proses interaksi. Mead secara konsekuen lebih menyoroti corak sosial pikiran. Berfikir adalah interaksi oleh “diri” orang yang bersangkutan dengan orang lain. Sehubungan dengan proses-proses ini yang mengawali perilaku manusia, konsep “pengambilan peran” (role talking) amat penting.

MIND

Mead memandang akalbudi (mind) bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai satu proses sosial. Mead juga menekankan pentingnya fleksibilitas dari akalbudi (mind) itu sendiri. Selain menghayati symbol-simbol yang sama dengan arti yang sama, fleksibilitas memungkinkan interaksi biarpun dalam situasi tertentu orang tidak mengerti arti dari stimulus atau symbol yang diberikan. Simbol-simbol verbal (bahasa) adalah penting bagi Mead karena kita selalu dapat mendengarkan diri sendiri walaupun kita mungkin tidak selalu bisa melihat tanda-tanda gerak gerik fisik kita. Konsep tentang arti sangat penting bagi Mead. Perbuatan bisa mempunyai arti kalau kita bisa menggunakan akalbudi untuk menempatkan diri kita didalam diri orang lain sehingga kita bisa menafsirkan pikiran-pikirannya dengan tepat. Namun disini, Mead mengatakan bahwa arti atau meaning itu aslinya tidak berasal dari akalbudi melainkan dari situasi sosial.

SELF

Bagi Mead, kemampuan untuk memberi jawaban kepada diri sendiri sebagaimana ia memberi jawaban terhadap orang lain, merupakan kondisi-kondisi penting dalam rangka perkembangan akalbudi itu sendiri. Menurut Mead, self itu mengalami perkembangan melalui proses sosialisasi. Ada tiga tahap dalam proses sosialisasi itu, yakni Tahap Bermain (Play Stage), tahap pertama adalah tahap bermain, pada tahap inilah anak-anak belajar memikirkan sikap orang lain terhadap dirinya. Hasil dari proses bermain ini, anak belajar menjadi subyek sekaligus obyek dan mulai mampu membangun diri. Namun, ini adalah diri yang terbatas karena anak hanya dapat memainkan peran orang lain yang jelas. Tahap kedua yakni, Tahap Permainan (Game Stage), tahap permainan diperlukan jika seseorang ingin mengembangkan diri secara utuh. Kalau pada tahap bermain anak memainkan peran orang lain, dalam tahap permainan anak harus mengambil peran orang lain yang terlihat didalam permainan tersebut. Tahap ketiga yakni, Generalized Other, adalah harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, standart-standart umum dalam masyarakat. Dalam tahap ini, seorang anak mengarahkan tingkah lakunya berdasarkan standart-standart umum atau harapan-harapan masyarakat, atau norma-norma kehidupan masyarakat.

SOCIETY

Bagi Mead istilah masyarakat berarti proses sosial terus-menerus yang mendahului pikiran dan diri. Karena arti pentingnya bagi pembentukan pikiran dan diri, masyarakat jelas menempati posisi sentral dalam pemikiran Mead. Bagi Mead, masyarakat merepresentasikan serangkaian respons terorganisasi yang diambil alih oleh individu dalam bentuk “me”. Mead tidak membuat uraian tentang masyarakat dalam arti yang luas. Pandangan Mead tentang masyarakat ialah bahwa masyarakat ada sebelum individu dan proses mental atau proses berfikir muncul dari masyarakat.

 

I and ME

Salah satu bagian dari diskusi Mead yang cukup penting adalah pembedaan antara “I” dan “Me”, yakni antara diri sebagai subyek dan diri sebagai obyek. Diri sebagai obyek ditunjukan dengan “Me”, sedangkan diri sebagai subyek ditunjukkan oleh “I”. “I” adalah respons langsung individu terhadap individu yang lain. Dia tidak dapat dikalkulasi, tidak dapat diprediksi, dan merupakan aspek kreatif diri. Me adalah unsure sosial yang mencakup generalized other, yaitu semua sikap, symbol, norma, dan pengharapan masyarakat yang telah dibatinkan individu dan dipakai olehnya dalam menentukan kelakuannya. Me adalah masyarakat didalam dia. Jadi, jika ada semacam aksi, dia langsung bereaksi tanpa melibatkan pikiran atau pertimbangan. Tetapi apabila diantara aksi dan reaksi itu ada sedikit pertimbangan, pikiran, atau refleksi, maka pada waktu itu “I” telah menjadi “Me”. Diri sebagai subyek yang bertindak “I” hanya berada dalam saat bertindak itu. Ketika kemudian dia melihat kembali tindakannya itu, maka pada waktu itu “I” telah menjadi “Me”.

INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Didalam interaksionisme simbolik ada beberapa prinsip dasar, antara lain Kemampuan Berfikir, asumsi penting bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berpikir membedakan interaksionisme simbolik dari akar behaviorisme. Kemampuan berfikir melekat dalam pikiran, namun penganut interaksionisme simbolik memiliki konsepsi pikiran yang tidak lazim, yaitu memandang pikiran muncul dalam sosialisasi kesadaran. Yang kedua yaitu, Berfikir dan Interaksi, pandangan ini menghantarkan interaksionisme simbolik untuk memperhatikan satu bentuk khusus dari interaksi sosial, yakni sosialisasi. Bagi interaksionisme simbolik, sosialisasi adalah proses dinamis yang memungkinkan orang mengembangkan kemampuan berfikir, tumbuh secara manusiawi. Yang ketiga yaitu, Mempelajari Makna dan Simbol, dalam interaksi sosial, orang belajar symbol-simbol dan arti-arti. Makna tidak tumbuh dari proses mental soliter namun dari interaksi. Orang mempelajari symbol sekaligus makna dalam interaksi sosial. Kendati merespons tanda tanpa berfikir, orang merespons symbol melalui proses berfikir. Yang keempat yaitu, Aksi dan Interaksi, pokok perhatian interaksionisme simbolik adalah dampak makna dan symbol pada tindakan dan interaksi manusia. Disini mead membedakan antara tingkah laku tersembunyi (covert behavior) dan tingkah laku terbuka (overt behavior). Covert behavior adalah proses berfikir yang melibatkan arti dan symbol-simbol, Overt behavior adalah tingkah laku actual yang dilakukan oleh seorang actor. Yang kelima yakni, Menetapkan Pilihan oleh karena kemampuan untuk mengerti arti dan symbol-simbol maka manusia bisa melakukan pilihan terhadap tindakan-tindakan yang diambil. Manusia tidak perlu menerima begitu saja arti-arti dan symbol-simbol yang dipaksakan kepada mereka. Sebaliknya, mereka bisa bertindak berdasarkan interpretasi yang mereka buat sendiri terhadap situasi itu. Jadi, bagi interaksionis simbolik, actor sekurang-kurangnya memiliki otonomi. Mereka tidak sekedar dikekang atau diarahkan, mereka mampu menetapkan pilihan unik dan independen. Selain itu, mereka mampu mengembangkan kehidupan yang memiliki gaya unik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Raho, Bernard SVD. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka

Ritzer, George and Douglas J. Goodman. 2014. Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Pengembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana

Veeger, KJ. 1986. Realitas Sosial. Jakarta: PT Gramedia

Teori Konflik – Lewis Coser

Teori Konflik – Lewis Coser

 

Coser (1956: 16-19), dalam membahas ahli teori yang lebih awal, menyatakan pemahaman mereka tentang konflik sebagai kesadaran yang tercermin dalam semangat pembaharuan masyarakat. Coser memilih menunjukkan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif untuk membentuk serta mempertahankan struktur. Dia melakukan hal ini dengan membangun diatas sosiologi klasik pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan konflik sosial, dan terutama melalui kepercayaan pada ahli sosiologi Jerman yang terkenal yaitu Georg Simmel. Coser mengambil pembahasan konflik dari Simmel, mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi-kondisi dimana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negative akan memperlemah kerangka masyarakat. (Margaret M. Poloma. 1987: 106-108)

Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Didalam bukunya yang berjudul The Functions of Social Conflicts, Lewis Coser memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Dari judul itu bisa dilihat bahwa uaraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional dan terarah kepada pengintegrasian teori konflik dan teori fungsionalisme structural. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Pada hal pendukung teori konflik lainnya memusatkan analisa mereka pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. (Bernard Raho, SVD. 2007: 82-83)

Konflik dapat menetapkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur kedalam dunia sosial sekelilingnya. Di dunia internasional kita dapat melihat bagaimana konflik, apakah dalam bentuk tindakan militer atau di meja perundingan, mampu menetapkan batas-batas geografis nasional (Margaret M. Poloma. 1987: 108-109)

Katup Penyelamat

Katup penyelamat (Savety-Valve) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Lewat katup penyelamat (Savety-Valve) itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan objek aslinya. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biayabagi sistem sosial maupun bagi individu, mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif. (Margaret M. Poloma. 1987: 109-111)

Konflik Realistis dan Non-Realistis

Konflik realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada objek yang dianggap mengecewakan. (Margaret M. Poloma. 1987: 111)

Konflik realistis merupakan saru alat untuk satu tujuan tertentu, yang kalau tujuan itu tercapai mungkin akan menghilangkan sebab-sebab dasar dari konflik itu. Konflik yang realistis diarahkan ke obyek dari konflik itu. (Doyle Paul Johnson. 1986: 202)

Konflik non-realistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonistis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu fihak. (Margaret M. Poloma. 1987: 111)

Konflik yang non-realistis mencakup ungkapan permusuhan sebagai tujuannya sendiri. Konflik yang non-realistis membelok dari obyek konflik yang sebenarnya. (Doyle Paul Johnson. 1986: 202)

Permusuhan Dalam Hubungan-Hubungan Sosial yang Intim

Bila konflik berkembang dalam hubungan-hubungan sosial yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) lebih sulit untuk dipertahankan. Semakin dekat hubungan semakin sulit rasa permusuhan itu diungkapkan. Tetapi semakin lama perasaan demikian ditekan, maka semakin penting pengungkapannya demi mempertahankan hubungan itu sendiri.Coser menegaskan, bahwa tidak adanya konflik tidak bisa dianggap sebagai petunjuk kekuatan dan stabilitas dari hubungan yang demikian. Konflik yang diungkapkan dapat merupakan tanda-tanda dari hubungan-hubungan yang hidup, sedang tidak adanya konflik itu dapat berarti penekanan masalah-masalah yang menandakan kelak aka nada suasana yang benar-benar kacau. (Margaret M. Poloma. 1987: 113-115)

FUNGSIONALITAS KONFLIK

Sebagaimana kita ketahui konflik dapat secara positif fungsional sejauh ia memperkuat kelompok dan secara negative fungsional sejauh ia bergerak melawan struktur. Coser menyatakan bahwa yang penting dalam menentukan apakah suatu konflik fungsional atau tidak ialah tipe isu yang merupakan subyek konflik itu. Konflik fungsional positif bilamana tidak mempertanyakan dasar-dasar hubungan dan fungsional negative jika menyerang suatu nilai inti. Dalam struktur besar atau kecil konflik in-group dapat merupakan indicator adanya suatu hubungan yang sehat. Dengan demikian Coser sangat menentang pandangan bahwa tidak adanya konflik dapat dipakai sebagai indicator dari kekuatan dan stabilitas suatu hubungan. (Margaret M. Poloma. 1987: 115-117)

Coser mendasarkan analisanya dalam The Functions od Social Conflict pad aide-ide Simmel. Namun perhatian Coser tidak terlalu banyak pada hubungan timbale balik yang kompleks dan tidak kentara antara bentuk-bentuk konflik dan interaksi lainnya pada tingkat antar pribadi, tetapi pada konsekuensi-konsekuensi konflik itu keseluruhan untuk sistem sosial yang lebih besar dimana konflik itu sendiri. Perhatian Coser umumnya ialah memperlihatkan bahwa konflik tidak harus merusak atau bersifat disfungsional untuk sistem dimana konflik itu terjadi, melainkan bahwa konflik itu dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif atau menguntungkan sistem itu. (Doyle Paul Johnson. 1986: 195-196)

KESIMPULAN

Banyaknya analisa kaum fungsionalis yang melihat bahwa konflik adalah disfungsional bagi suatu kelompok, Coser mencoba mengemukakan kondisi-kondisi dimana secara positif, konflik membantu mempertahankan struktur sosial. Konflik sebagai proses sosial dapat merupakan mekanisme lewat mana kelompok-kelompok dan batas-batasnya terbentuk dan dipertahankan. Karya Coser tentang konflik itu bisa dengan lebih baik digambarkan sebagai fungsionalisme konflik.Secara teoritis fungsionalisme structural dan teori konflik kelihatan bisa diperdamaikan dengan menganalisa fungsi-fungsi dari konflik. Tetapi harus diakui bahwa dalam banyak hal, konflik juga menghasilkan ketidak-berfungsian, atau disfungsi.

Menurut pandangan Coser, konflik itu tidak selamanya menjadikan pertentangan dan permusuhan, namun konflik dapat juga memberikan fungsi atau manfaat yang positif jika mereka yang berkonflik dapat mengambil makna dari hasil konflik tersebut. mislnya saja, dengan munculnya konflik dapat membentuk suatu keteraturan atau ketetapan yang awalnya tdak atau belum terbentuk.

Tidak hanya itu, Coser juga menjelaskan konsekuensi dipendamnya konflik. Sebagian besar manusia masih suka memendam rasa persaingan dengan lawan maupun kawannya, padahal dengan memendam rasa tersebut dapat mengganggu ketenangan diri masing-masing, antara lain dapat mengakibatkan putusnya hubungan. Karena dengan perasaan yang terus dipendam, jika dapat meledakkan emosional seseorang pada suatu saat, jika tingkat emosi antar pelaku sedang berada diujung, maka akan memutuskan hubungan dengan lebih cepat. Dan dapat juga mengelakkan perasaan bermusuhan itu dari sumber yang sebenarnya, dan mengembangkan suatu saluran alternative untuk mengungkapkannya. Alternatif yang dimaksud disini adlah katup pengaman (safety valve).

DAFTAR PUSTAKA

Paul Johnson, Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia

Poloma, Margaret M. 1987. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV Rajawali

Raho, Bernard SVD. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka

 

Tugas Teori Sosial Politik – Negara Baru

NEGARA BARU

 

Sesudah Perang Dunia II usai banyak bermunculan Negara baru. Dengan bertambahnya jumlah Negara merdeka, maka bertambah pula militansi mereka di forum PBB. Pada dasawarsa 1980-an, berkat usaha Dunia Ketiga dicanangkan “generasi ketiga hak asasi”, yaitu hak atas perdamaian dan hak atas pembangunan. Dengan menguatnya rasa percaya diri, Negara – Negara baru mulai merasa terganggu oleh kenyataan bahwa masalah hak asasi masih tetap didominasi oleh pandangan Negara – Negara Barat yang memprioritaskan hak politik, sekalipun hak ekonomi secara resmi sudah menjadi bagian dari Internaional Human Rights Bill. (Budiardjo, Miriam. 2008: 232-233)

Banyak Negara baru (terutama di Asia dan Afrika) memiliki warisan tradisi yang masih kuat berakar, dan ketentuan – ketentuan moralitas yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Maka dari itu, hak asasi dianggap juga perlu dilihat dalam konteks kebudayaan masing – masing, baik yang menyangkut kelompok etnis, ras, atau agama. Banyak Negara Dunia Ketiga dalam masa lampau terdiri dari komunitas kecil – kecil yang bersifat agraris dan pra – industry. Komunitas yang sedikit banyak swasembada, merupakan organisasi yang mengatur kehidupan bersama. Komunitas merupakan kesatuan yang kukuh karena adanya jaringan kewajiban timbale balik antara komunitas dan manusia. (Budiardjo, Miriam. 2008: 234)

Dalam dunia modern, komunitas kecil seperti desa tidak lagi member perlindungan kepada penduduknya karena komunitas itu hanya merupakan bagian kecil dari komunitas baru yang jauh lebih besar dan berwibawa. Ada beberapa Negara yang dengan cara otoriter berhasil maju melalui pertumbuhan ekonomi yang berorientasi pada pasar. Akan tetapi, pada tahap tertentu hal ini justru menimbulkan tuntutan baru dari sebagian masyarakat (terutama kelas menengah) untuk kehidupan yang lebih demokratis dan keterbukaan yang lebih luas. (Budiardjo, Miriam. 2008: 235-236)

Kehidupan politik di negara – negara Dunia Ketiga terbentuk oleh berbagai pengaruh, dan beberapa diantaranya yaitu tingkat pendapatan dan pembangunan industry yang rendah, warisan colonial, sukuisme atau komunalisme dan masyarakat prulal, bahasa, pendidikan sekolah, elite yang terdidik, dan media massa komunikasi. Kehidupan politik seperti yang dimaksud disini berhubungan dengan pembentukan keputusan – keputusan penting tentang kehidupan Negara atau kelompok. Politik lebih berhubungan dengan membuat dan mengubah peraturan, termasuk perubahan peraturan untuk mengubah peraturan. (Goldthorpe, J.E. 1992: 388)

Beberapa Negara seperti “republic – republic bermahkota”, yaitu monarki – monarki di Eropa Barat, telah menyesuaikan dan tidak membuang pranata tradisional mereka yang lama sebagai tanggapan atas berbagai kebutuhan baru. Kalau menjadi modern berarti mau dan dapat memilih, jelas bahwa pemerintah – pemerintah itu sangat berbeda dalam member kesempatan kepada warga negaranya untuk menjalankan dan melaksanakan pilihan, khususnya di arena politik. (Goldthorpe, J.E. 1992: 390-391)

Kebanyakan Negara Dunia Ketiga, warisan yang paling besar dan ditinggalkan oleh pemerintahan colonial ialah organisasi kekuasaan Negara. Untuk menguasai sumber daya yang unik inilah terjadi perjuangan yang paling besar pada saat kemerdekaan. Kadang – kadang bentuk pemerintahan yang digunakan, setidaknya pada waktu permulaan, disesuaikan dengan bentuk kekuasaan pemerintahan colonial sebelumnya. Dibanyak Negara Afrika dan Asia, bagian yang penting dalam warisan colonial itu ialah, suatu administrasi yang menganggap dirinya bebas dan superior terhadap liku – liku dan intrik politik. (Goldthorpe, J.E. 1992: 392-395)

Solidaritas memang sangat diperlukan dalam tahap – tahap pertama pembangunan Negara, karena segala sesuatunya masih baru dan masih dalam tahap mendirikan dan merintis dalam berbagai bidang, disamping masih banyaknya terdapat tantangan dan oposisi dari berbagai pihak dan kalangan. Tetapi ada saatnya suatu Negara dapat didirikan tanpa kelompok solidaritas, misalnya ketika orang yang mendirikan Negara itu termasuk kedalam suatu kelompok yang berkuasa (ruling class) yang sangat besar kekuasaan dan pengaruhnya, dan ia melarikan diri dari tampuk pemerintahannya, lalu mendirikan sebuah negara di daerah terpencil, ketika itu ia mungkin saja mendirikan Negara itu tanpa kelompok solidaritas, karena penduduk daerah itu akan membantunya dengan sekuat tenaga, erkat pengaruh kelompok penguasa dimana ia sendiri termasuk didalamnya. (Zainuddin, A. Rahman. 1992: 162-164)

Kesimpulan dari materi diatas, bahwa Negara baru itu merupakan Negara yang merdeka setelah terjadinya perang Dunia II atau dengan kata lain Negara Baru itu merupakan Negara yang terbentuk pada Dunia Ketiga. Negara – Negara Baru tersebut sebelumnya mengalami peperangan dengan Negara – Negara yang menjajahnya, misalnya seperti Indonesia sendiri, Indonesia merupakan golongan Negara Baru karena Indonesia merdeka setelah terjadinya perang Dunia II. Sebelumnya Indonesia di jajah oleh beberapa Negara antara lain, Portugis, Belanda, Jepang. Selama berabad – abad Negara Indonesia di jajah oleh Portugis, Belanda, Jepang pada akhirnya setelah Perang Dunia II Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Contoh Negara baru lainnya yaitu Negara Rusia, Rusia tergolong ke dalam Negara baru karena sebelumnya Rusia merupakan bagian dari Negara Unisoviet yang karena factor perekonomian akhirnya Unisoviet memecah negaranya menjadi beberapa Negara bagian yang salah satunya adalah Negara Rusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar – Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Goldthorpe, J.E. 1992. Sosiologi Dunia Ketiga Kesenjangan dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Zainuddin, A. Rahman. 1992. Kekuasaan dan Negara Pemikiran Politik Ibnu Khaldun. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

UKD.1 Teori Sosial Politik Renaissance

PENGERTIAN RENAISSANCE

 

Renaissance adalah aliran yang menghidupkan kembali minat kepada kesusastraan dan kebudayaan Yunani Kuno yang selama Abad Pertengahan telah disisihkan. (Miriam Budiardjo, 2008: 110)

 

Renaisance = kelahiran kembali, karena menyaksikan kelahiran kembali zaman “klasik” Yunani dan Romawi yang berlangsung dari sekitar 1350 sampai abad ke – 16. Renaisance bukan hanya puncak humanism, melainkan juga masa dimana keagamaan menemukan hakekatnya kembali. Ditengah kebangkitan kembali agama mencuat salah satu unsure paling kunci modernitas : kesadaran akan subyektifitas. Kata “subyektif” disini bukan sebagai lawannya “obyektif”. Kata “subyek”, “aku” sebagai subyek yang mengerti, menghendaki, bertindak. Menurut Hegel dan Sartre, manusia itu bukan sebagai substansi, melainkan sebagai subjek, bukan sebagai etre en soi (pengada pada dirinya sendiri), bukan sebagai etre pour soi (pengadaan bagi dirinya sendiri), bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran diri, kesadaran yang sadar bahwa dirinya sadar, jadi bahwa yang sadar adalah dirinya sendiri. Manusia itu tidak sekedar hadir dalam dunia, melainkan hadir dengan sadar, dengan berpikir, dengan berefleksi, dengan mengambil jarak, secara kritis, dengan bebas. Subjektifitas itu unsure hakiki dalam paradigm antroposentris yang khas bagi modernitas. (Franz Magnis – Suseno, 2006:48 – 50)

 

Kata Renaissance berasal dari kata dalam bahasa Perancis “renaitre” yang berarti hidup kembali atau lahir kembali. Wujud dari renaissance adalah gerakan yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Hasil dari gerakan ini adalah orang – orang Eropa diperkenalkan kembali kepada aspek kehidupan kebudayaan, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabangnya, perkembangan system kepercayaan, system politik, institusi social, system kenegaraan, dan aspek – aspek kebudayaan yang lain. Zaman renaissance dapat juga disebut zaman peralihan dari zaman Abad Pertengahan menuju zaman Modern. (Retno Winarni, 2014: 9)

 

Robert Black mengatakan bahwa konsep renaissance mensyaratkan suatu skema historis, karena jika ada kelahiran kembali, maka harus ada kelahiran yang disusul oleh kematian. Petrach orang yang pertama kali menyarankan ide kelahiran kembali dan merujuk pada periode diantara zaman klasik dan zaman modern sebagai abad – abad kegelapan, Plavio Biondo (1392 – 1463) menyebutkan medium aevum atau zaman pertengahan. Ketika Zaman Pertengahan berjalan menuju zaman modern renaissance menjadi perantara terhadap keduanya. Perjalanan renaissance itu sendiri dapat dilihat dari Abad Pertengahan akhir. Suatu gejala dimana manusia yang terbelenggu telah berusaha melepaskan diri dari ikatan spiritual gejala telah terlihat pada akhir Abad Pertengahan. (Retno Winarni, 2014: 10 – 11)

 

PERISTIWA – PERISTIWA YANG MENDAHULUI TIMBULNYA RENAISSANCE

 

  1. Bidang Ekonomi

Sekitar abad ke 11 – 13 terjadi pendobrakan terhadap isolasi Eropa akibat berlangsungnya Perang Salib. Perang agama ini selain membawa akibat yang mengerikan karena banyaknya korban baik jiwa maupun harta, dan pertentangan agama yang semakin tajam, dalam bidang ekonomi perdagangan serta ilmu pengetahuan membawa buah yang positif. Hubungan Eropa Barat seperti Portugal, Spanyol, Inggris dengan Byzantium dan Timur Tengah mulai terbuka kembali. Para pedagang dan ilmuwan ikut para tentara Perang Salib ke Palestina atau sebaliknya. Akibat dilewati rombongan Perang Salib ini, sepanjang rute jalan Perang Salib timbul kota – kota, pasar – pasar, toko – toko dan lain – lain. Perkembangan perdagangan ini disertai kemunculan sejumlah pusat perdagangan seperti di Italia yang terkenal dengan perdagangan anggur, tekstik dan barang – barang dari Byzantium, bahan perdagangan dari Timur Tengah seperti rempah – rempah dan logam mulia. (Retno Winarni, 2014: 14 – 15)

 

  1. Politik dan Sosial

Renaissance lahir di tengah – tengah kekacauan politik. Tuan – tuan feodal pada waktu itu mulai berkurang peranannya karena Perang Salib yang berkepanjangan, serta penemuan – penemuan dalam bidang senjata terutama mesiu. Raja – raja semakin mampu memakai kekuatan tentara sewaan yang dibayar dan terlepas dari tuan – tuan feudal yang semula merupakan kasta ksatria/militer dan sumber kekuatan tempur. Kekuatan tuan feudal kini menjadi merosot digeser para saudagar, dan system perbudakan juga semakin pudar dan orang bebas/orang merdeka semakin banyak. Renaissance selain membawa manusia sadar akan hak – haknya secara perseorangan maka mereka itu juga yang menjadi pendukung timbulnya Negara nasional modern. (Retno Winarni, 2014: 15 – 16)

 

  1. Semangat Zaman Pertengahan Memudar

Pada masa renaissance merubah semangat – semangat masyarakat, yaitu semangat theosentris kepada semangat anthroposentis, semangat komunal berubah ke semangat individualistis, dan semangat jansentig (harapan akan hidup di dunia kekal) kearah sekularisme. Semangat renaissance ini betul – betul bertentangan dengan semangat Abad Pertengahan. (Retno Winarni, 2014: 16)

 

RENAISSANCE DAN KEBERLANJUTANNYA

 

Situasi politik pada masa renaissance menguntungkan perkembangan individu, oleh karenanya kesenian dan ilmu pengetahuan maju dengan sangat pesat. Teori tentang hirarki nilai – nilai, yang mencakup segala kepentingan dan aktivitas manusia kedalam satu system dimana agama menjadi titik puncaknya, telah digantikan oleh konsepsi bidang – bidang yang terpisah dan sejajar. Meskipun demikian perubahan yang evolutif menandai perjalanan renaissance menuju zaman modern, sehingga menentukan corak hubungan antara zaman pertengahan dengan zaman modern. Ketika Yunani Romawi mendorong orang – orang modern termotivasi untuk menandingi karya – karya model Yunani dan Romawi dengan menciptakan sesuatu yang baru, yang merupakan asset bagi jalan hidup Barat kontemporer, hal ini justru malah menyebabkan pengaruh Yunani Romawi semakin lama semakin melemah. (Retno Winarni, 2014: 22)

Karya – karya seni pahat dan seni lukis dari abad ke – 16 dapat dengan jelas dibedakan dari karya abad ke – 13. Lukisan dan pahatan renaissance tampaknya berhubungan dengan lukisan dan pahatan zaman Abad Pertengahan. Bidang kesusastraan imajinatif menunjukan tanda – tanda luar yang jelas tampak tidak begitu berbeda antara kesusastraan zaman renaissance dengan kesusastraan dari abad – abad akhir Zaman Pertengahan, tetapi kesusastraan tersebut lebih menunjukkan kelanjutan perkembangannya. Menelang tahun 1540 – 1550 berkembang gaya kesenian klasik khas Prancis yang terwujud dari perpaduan antara unsure – unsure pengaruh Italia dan seni budaya kuno dengan tradisi kesenian Prancis. Zaman Renaissance adalah zaman emansipasi dari gereja. Tidak hanya aturan moral lama yang dihindari, tetapi semangat menghidupkan kembali pengetahuan dari masa Yunani Romawi dan perkenalan dengan berbagai macam ragam pendaat dari orang – orang ternama maka orang – orang kemudian juga berusaha menghirup hawa intelektual dengan sebebas – bebasnya. Ketidaksenangan orang terhadap masalah – masalah teologi yang masih menjadi perdebatan, maka banyak orang yang menyibukkan diri dalam ilmu pengetahuan sekuler, seperti ilmu pasti (matematika), ilmu falak dan lain – lain ilmu pengetahuan alam. Hal ini terjadi sesudah abad ke – 16, yang mencatat banyak orang terpelajar dan ahli – ahli ilmu pengetahuan besar bermunculan. (Retno Winarni, 2014: 22 – 26)

 

KESIMPULAN

 

Jadi renaissance merupakan zaman peralihan dari abad pertengahan menuju zaman modern. Zaman renaissanceini disebut juga zaman kegelapan, karena renaissance mulai berkembang pada abad 13 sampai 16, sedangkan nama renaissance itu sendiri mulai sering didengar atau disebutkan pada abad ke – 19. Pada masa peralihan tersebut muncul ide – ide baru yang menjadikan atau mendorong masyarakat untuk lebih maju. Terutama dalam bidang ekonomi, itu terlihat sangat jelas, dimana pada masa feudal para petani menghambakan dirinya pada tuannya sedangkan raja tidak memiliki kekuasaan penuh, tetapi sejak berjalannya zaman renaissance para petani mulai melepaskan dirinya dari perbudakan tersebut, mereka mulai berfikir kritis, mereka paham betul bahwa kehidupan mereka tidak hanya tergantung pada gereja dan kaum bangsawan, mereka memutuskan untuk meninggalkan desa dan menuju kekota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, sepeerti berdagang. Selain system perekonomian yang berubah, zaman renaissance juga mengubah pola piker politik masyarakat, memunculkan ilmuwan – ilmuwan ternama, seniman – seniman handal, dan lain – lain. Contoh kesenian yang berkembang pada masa renaissance adalah munculnya gereja – gereja dengan seni arsitektur yang lebih indah, missal adanya patung nabi didalam sebuah katedral, relief – relief, lukisan. Kunci utama perubahan masyarakat pada masa peralihan abad pertengahan menuju zaman modern adalah ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetahuan itulah masyarakat bisa cerdas, mulai pandai berfikir, dan sadar bhawa hidup mereka tidak hanya untuk akhirat, melankan juga untuk duniawi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Franz Magnis – Suseno. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Miriam Budiardji. 2008. Dasar – Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Retno Winarni. 2014. Sejarah Pemikiran Modern. Surabaya: LaksBang PRESSIndo, Yogyakarta

Asas Sosiologi UKD.3

INDIVIDU – MASYARAKAT SEBAGAI STUDY

  1. A.    Individu

Sebagai makhluk biologis, manusia lahir kepermukaan bumi sebagai suatu individu. Sebagai suatu indvidu, manusia merupakan satu kesatuan sistem rokhani dan jasmaninya. Dalam diri manusia sebagai suatu individu, terdapat potensi – potensi kejiwaan yang dapat dikembangkan. Sedangkan untuk perkembangan potensi – potensi tadi secara wajar, diperlukan pertumbuhan jasmani yang sesuai dan wajar pula. Untuk keperluan perkembangan dan pertumbuhan tadi, manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari kondisi fisik, kondisi social, dan kondisi budaya di sekitarnya.

Dari kenyataannya yang demikian, hakekatnya, manusia merupakan makhluk yang unik, yang merupakan perpaduan antara aspek individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk social sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat. (Drs. Nursid Sumaatmadja, 1981: 18)

Antar hubungan kehidupan individu di masyarakat tidak akan berjalan baik dan serasi tanpa adanya media. Media komunikasi yang pertama dan yang terutama digunakan di masyarakat, yaitu bahasa. Bahasa memiliki kemampuan dan keampuhan mendekatkan jarak social – ekonomi – budaya anggota – anggota masyarakat. (Drs. Nursid Sumaatmadja, 1978: 23)

 

  1. B.     Masyarakat

Kebudayaan merupakan unsur terpenting dari masyarakat. Kerja sama juga merupakan unsur penting dalam masyarakat. Dan kelompok merupakan unsur yang menentukan bagi masyarakat. Jadi definisi masyarakat adalah kesatuan yang tetap dari orang – orang yang hidup di daerah tertentu dan bekerja sama dalam kelompok – kelompok, berdasarkan kebudayaan yang sama untuk mencapai kepentingan yang sama. (Drs. D. Hendropuspito OC, 1989: 74 – 75)

 

Ciri – Ciri Masyarakat :

  1. Memiliki wilayah dan batas yang jelas

Suatu masyarakat umumnya mempunyai wilayah yang sama dengan batas – batas geografis yang jelas. Batas – batas itu sering menjadi petunjuk bagi pengamat luar untuk mengetahui jenis suku bangsa atau bangsa yang menghuni wilayah tertentu, seperti masyarakat Bali untuk penduduk di Pulau Bali, masyarakat Madura untuk penghuni di Pulau Madura.

  1. Merupakan satu kesatuan penduduk

Semua orang yang ada dalam masyarakat merupakan satu kesatuan penduduk, yang juga disebut kesatuan demografik. Sebutan demikian dapat dibenarkan, dengan pengertian bahwa mereka bukanlah kategori social semata – mata karena mereka sebagai kumpulan yang tetap saling mengadakan hubungan dan kerja sama.

  1. Terdiri atas kelompok – kelompok fungsional yang heterogen

Suatu masyarakat terdiri atas kelompok – kelompok fungsional yang heterogen dan saling bekerja sama guna mencapai kepentingan bersama. Setiap kelompok social dibentuk dan diberi fungsi tertentu. Tidak ada kelompok yang tidak mempunyai fungsi. Dalam arti ini, semua kelompok adalah kelompok fungsional.

  1. Mengemban fungsi utama

Suatu masyarakat merupakan kesatuan organisasi yang mengemban fungsi yang paling umum atau tugas yang tertinggi dalam lingkungannya sendiri, yaitu mengusahakan kepentingan bersama (bonum commune). Tujuan yang sifatnya supraindividual itu hanya dapat dicapai dengan jalan kerja sama semua pihak secara terpadu.

  1. Memiliki kebudayaan yang sama

Unsur penting yang memungkinkan suatu masyarakat menjadi organism terpadu adalah kebudayaan yang sama, misalnya bahasa. (Drs. D. Hendropuspito OC, 1989: 75 – 77)

 

  1. C.    Masyarakat dan Individu dalam Konteks Kebudayaan

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara social oleh para anggota masyarakat.

 

Kebudayaan dibagi menjadi dua, yaitu :

–          Kebudayaan Nonmateri

Terdiri dari kata – kata yang dipergunakan orang, hasil pemikiran, adat istiadat, keyakinan yang mereka anut, dan kebiasaan yang mereka ikuti.

–          Kebudayaan Materi

Terdiri dari benda – benda hasil pabrik, misalnya alat – alat, mebel, mobil, bangunan, irigasi, parit, lading yang diolah, jalan, jembatan, dan segala benda fisik yang telah diubah dan dipakai orang.

 

Komunikasi Bahasa dan Komunikasi Simbolik

Suatu bahasa hanyalah semacam tanda – suatu susunan suara dengan arti khusus pada setiap suara.

Selain bahasa, manusia menggunakan symbol untuk media komunikasi dalam maysarakat. Dengan komuniksi simbolis orang dapat saling bertukar arah, saling memberikan penemuan – penemuan, pengaturan kegiatan yang besar secara terperinci. Contoh komunikasi simbolik yaitu bahasa tubuh.

 

  1. D.    Individu – Masyarakat Sebagai Studi

Jadi, individu merupakan makhluk biologis yang lahir di permukaan bumi. Setiap individu pasti memiliki rasa kebersamaan untuk membaur dengan lingkungannya. Dengan rasa kebersamaan dan memiliki tujuan yang sama maka sekumpulan individu tersebut dapat membentuk suatu masyarakat. Masyarakat identik dengan kebudayaan, masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lain, sedangkan kebudayaan adalah suatu sistim norma dan nilai yang terorganisasi yang menjadai pegangan bagi masyarakat tersebut. Jika di dalam masyarakat tidak terdapat kebudayaan yang mengatur, maka masyarakat tersebut tidak akan bisa berjalan dengan baik karena tidak ada norma yang mengatur tingkah dan perilaku setiap individu dalam masyarakat tersebut. Contoh : masyarakat di desa Mutihsn memiliki kebudayaan yang berupa kerja bakti setiap hari minggu, kerja bakti tersebut dilakukan untuk mempererat tali persaudaraan dan juga untuk menjaga keindahan lingkungannya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hendropuspito. 1989. Sosiologi Sistematik. Yogyakarta: Kanisius

Nursid Sumaatmadja. 1978. Pengantar Studi Sosial. Bandung: Alumni/1981/Bandung

Paul B. Horton and Chester L. Hunt. 1999. Sosiologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Tugas Asas Sosiologi UKD.2

INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Teoritis interaksionisme simbolik tidak membayangkan pikiran sebagai benda, sebagai sesuatu yang memiliki struktur fisik, tetapi lebih membayangkan sebagai proses yang berkelanjutan. Interaksionisme simbolik memusatkan perhatian pada bentuk khusus interaksi sosial yakni sosialisasi. Bagi teoritis interaksionisme simbolik, sosialisasi adalah proses yang lebih dinamis yang memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan untuk berpikir, untuk mengembangkan cara hidup manusia tersendiri. (George Ritzer & Douglas J. Goodman, 2007: 290).

 

Teoritis interaksionisme simbolik memusatkan perhatian terutama pada dampak dari makna dan simbol terhadap tindakan dan interaksi manusia. Simbol dan arti memberikan ciri – ciri khusus pada tindakan sosial manusia (yang melibatkan aktor tunggal) dan pada interaksi sosial manusia (yang melibatkan dua orang aktor atau lebih yang terlibat dalam tindakan sosial timbal balik). (George Ritzer & Douglas J. Goodman, 2007: 293).

 

Dalam bukunya Symbolic Interactionims, Herbert Blumer membagi interaksi simbolik ke dalam beberapa konsep, antara lain :

  • Konsep Diri

Manusia bukan semata – mata organisme saja yang bergerak di bawah pengaruh perangsang – perangsang entah dari luar maupun dari dalam, malainkan organisme yang sadar akan dirinya. Proses interaksi pada diri sendiri terjadi karena adanya rangsangan yang berasal dari situasi dan kelakuannya sendiri.

  • Konsep Perbuatan (Action)

Oleh karena perbuatan manusia dibentuk dalam dan melalui proses interaksi dengan diri sendiri, meka perbuatan itu berlainan sama sekali dari gerak makhluk – makhluk yang bukan manusia. Perbuatan manusia tidak bersifat semata – mata reaksi biologis atas kebutuhannya, peraturan kelompoknya, seluruh situasinya, melainkan merupakan konstruksinya.

  • Konsep Obyek

Manusia hidup di tengah obyek – obyek. Kata “obyek” dimengerti dalam arti luas dan meliputi semua yang menjadi sasaran perhatian aktif manusia. Obyek dapat bersifat fisik, abstrak, sosial.

  • Konsep Interaksi Sosial

Interaksi tidak hanya berlangsung melalui gerak – gerak saja, melainkan terutama melalui simbol – simbol yang perlu difahami dan dimengerti artinya. Dalam interaksi simbolik orang mengartikan dan menafsirkan gerak – gerak orang lain dan bertindak sesuai dengan arti itu.

  • Konsep Joint Action

Joint action artinya aksi kolektif yang lahir dimana perbuatan – perbuatan masing – masing peserta dicocokan dan diserasikan satu sama lain. (K.J Veeger, 1986: 224)

 

Selain lima konsep diatas, Herbert Blumer menjelaskan dengan premis yang lain yang lebih ringkas, yaitu sebagai berikut, manusia itu memiliki kedirian. Ia dapat membuat dirinya sebagai obyek dari tindakannya sendiri, atau ia bertindak menuju pada dirinya sendiri sebagaimana ia dapat bertindak menuju pada tindakan orang lain. Kedirian dan bentuknya itu dijembatani oleh bahasa yang mendorong manusia untuk mengabstraksikan sesuatu yang berasal dari lingkungnnya, dan memberikannya makna, membuatnya menjadi sutau obyek. Obyek itu bukan hanya merupakan rangsangan tetapi ia dibentuk oleh disposisi tindakan individu. Dengan pengertian semacam ini, maka manusia cenderung membangun dan memperbaharui tindakannya dan dunianya. (Irving M. Zeitlin, 1998: 332.

 

Masyarakat menurut pandangan Blumer, menjadi suatu pluralitas yang tidak terbentuk, sedangkan kedirian yang tidak terbatas akan mengambang dalam situasi yang tak tentu itu. Jika semacam ini maka ada sedikit keraguan bahwa konsep semacam ini dapat dijuluki dengan interaksi simbolik. Dalam konteks ini masyarakat dileburkan dalam suatu hubungan – hubungan interaksi. Bahasa yang merupakan hal yang esensial bagi manusia tampaknya dipergunakan untuk mengartikan bahwa interaksi manusia dan sosialisasi seolah – olah hanya merupakan suatu proses simbol. (Irving M. Zeitlin, 1998: 336).

 

Jadi menurut pendapat saya setelah membaca beberapa literatur di atas, bahwa interaksi simbolik itu merupakan bentuk kesadaran pada diri sendiri dalam mendefinisikan objek – objek yang dilihatnya dan tidak saling mempengaruhi terhadap orang lain. Didalam interaksi simbolik tidak harus ada hubungan timbal balik antar manusia, tetapi hanya berupa aksi atau simbol saja. Seperti contoh, si A melempar batu ke sungai, lalu di sebrang sungai ada beberapa orang sedang memancing, dan mereka melihat kalau si A yang melempar batu, maka mereka akan berfikir kalau si A sedang jahil mengganggu orang yang sedang memancing, padahal maksud si A melempar batu itu karena batu yang dia lempar menghalangi jalan, maka ia singkirkan dengan cara di lempar ke sungai.

 

DAFTAR PUSTAKA

George Ritzer – Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Irving M. Zeitlin. 1998. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

K. J. Veeger. 1986. Realitas Sosial. Jakarta: PT Gramedia

“Pendekatan Interaksi”

PENDEKATAN INTERAKSI

“MASYARAKAT SEBAGAI PROSES INTERAKSI”

 

Pandangan masyarakat dibagi menjadi dua, yaitu organisisme dan mekanisisme, dan bersifat eksterm (K.J Veeger, 1984:86).

Persamaan Pandangan Organisisme dengan Mekanisisme:

  1. Kebebasan manusia dalam membangun sendiri masyarakatnya dan tanggung jawab atas hasilnya tidak diakui oleh kedua – duanya.
  2. Kehidupan bersama dipandang sebagai akibat obyektif dari hukum – hukum obyektif, yang berperan lepas dari kemauan subyektif (K.J Veeger, 1984:86).

Perbedaan Pandangan Organisisme dengan Mekanisisme:

  1. Organisisme: memandang masyarakat sebagai kesatuan hidup, dimana individu – individu menempati kedudukan bawahan (subordinate) dan fungsional bagaikan organ – organ badan.
  2. Mekanisisme: memandang masyarakat sebagai perhimpunan individu – individu, yang masing – masing berdiri sendiri dan hanya atas cara lahiriah berinteraksi satu dengan yang lain (K.J Veeger, 1984:86 – 87).

A.    Masyarakat Sebagai Proses Interaksi – George Simmel (1858 – 1918)

Kalau kita mendalami dan menguraikan kehidupan sosial, maka nyatalah bahwa tidak ada kelompok yang mempunyai hidup dalam dirinys lepas dari anggotanya (K.J Veeger, 1984:91)

Beberapa Pengertian Dasar Menurut Simmel Mengenai Masyarakat Sebagai Proses Interaksi:

  1. Masyarakat terdiri dari jaringan relasi – relasi antara orang, yang menjadikan mereka bersatu.
  2. Relasi – relasi aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat, tidak semua sama sifatnya.
  3. Kesatuan – kesatuan sosial tidak hanya terbentuk dari relasi – relasi integratif dan harmonis.
  4. Tidak semua kesatuan sosial mempunyai lama waktu dan intensitas yang sama (K.J Veeger, 1984:91 – 94)

B.     Konsepsi Dinamis Tentang Manusia dan Masyarakat – Thorstein Veblen (1857 – 1929)

Veblen membenarkan bahwa dalam diri manusia ada “naluri – naluri” yang berpengaruh atas kelakuannya, tetapi tidak menentukan kelakuan itu. Naluri – naluri hanya membentuk suatu predisposisi dan menggairahkan manusia agar memikirkan dan mengusahakan tujuan – tujuan tertentu. Naluri – naluri bersifat sekunder saja dan berfungsi sebagai perangsang (K.J Veeger, 1984:101).

Veblen membedakan empat naluri yang berpengaruh atas kelakuan orang, yaitu:

  1. Kecenderungan untuk tahu (idle curiosity),
  2. Kecenderungan untuk menjadi produktif, yaitu menghasilkan sesuatu (naluri kerja, instinct of workmanship),
  3. Kecenderungan untuk membajak (predatory instinct, yang mendorong orang untuk menikmati barang tanpa bekerja),
  4. Kecenderungan untuk bersikap baik terhadap kaum kerabat dan sesame (K.J Veegar, 1984:101).

C.    Masyarakat dan Individu – Charles Horton Cooley (1864 – 1929)

Ditegaskan oleh Cooley, bahwa masyarakat dan individu bukan dua realitas yang berdiri terpisah, melainkan dua sisi atau segi dari realitas yang satu dan sama. Keduanya adalah bagaikan kedua sisi keping uang, yang tidak mungkin terpisahkan. Pembedaan antara individualitas dan sosialitas dilakukan oleh akal budi manusia.

Diluar masyarakat, individu tidak mempunyai eksistensi sebagai manusia, sama seperti diluar individu – individu tidak ada masyarakat.

Individu tidak dilengkapi oleh masyarakat, melainkan dijadikan manusia. Hidup pribadi manusia bercorak sosial, sama seperti kehidupan sosial bercorak pribadi, yaitu terjalin lahir batin dengan pikiran, kemauan, dan perbuatan pribadi – pribadi (K.J Veeger, 1984:107 – 108)

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

K.J. Veeger. 1984. Realitas Sosial. Jakarta: PT Gramedia